Pertama – tama saya harus bersyukur. Nggak sreg rasanya kalau meninggalkan syukur. Sudah diberi rejeki Allah, kok malah menggerutu misalnya. Ora ilok. Sudah sewajarnya, pur atawa tinding alias seri, kata orang jawa – kala kebaikan dibalas dengan kebaikan. Kanjeng Nabi SAW bersabda, sudah nyukupi mrantasi, jika kita mengucakan syukur atas nikmat yang diberikan pada kita. Apalagi sudah lama diajarkan bagaimana menjadi hamba yang banyak syukur. Maka akan jadi kurang ajar, ketika kita merespon sebuah nikmat dengan sikap ngedumel. Itu sudah termasuk dholim, kata Kang Mubaligh. Bahkan bisa dikatakan kufur seperti yang disebutkan dalam Kitabullah, Surat Ibrahim ayat 7; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.".
Nah, sudah sering saya menerima gift dari perusahaan. Mulai dari atas sampai ke bawah. Topi, kemeja, kaos, celana, dasi, ikat pinggang, dompet, sepatu dan perlengkapannya. Semua komplit kecuali satu, daleman alias CD saja yang belum. Ada tas, handuk, mobil – mobilan, dan lainnya. Setahun bisa menerima satu sampai dua kali. Maka, tak putus – putus kesyukuran saya atas keadaan itu. Gratis – tis. Akan tetapi permasalahannya timbul kemudian. Barusan seneng, tapi kemudian langsung murung. Karena diantara gift yang diberikan itu ternyata ada gambar mentholnya. Saya tidak menyebutkan merek, nanti bisa kena cekal, insya allah semua sudah mafhum adanya. Beberapa merek ternama, brandnya tak lain adalah gambar menthol. Mau dipakai ada gambar mentholnya, mau gak dipakai sayang harganya lumayan mahal. Bisa dibayangkan, jika sebuah kaos itu senilai Rp 250.000,- lebih.
Memahami dalil yang diriwayatkan oleh Aisyah di bawah ini, maka saya mencoba merusak brand tersebut. Memotong bagian gambar menthol, sehingga bisa menyebabkan kematian seandainya dalam keadaan nyata atau hidup. Maka ada yang menghilangkan bagian kepalanya, ini yang umum. Ada juga yang menghilangkan bagian tubuh yang lain. Tapi, bukan hasil bagus yang saya peroleh darinya. Justru menyebabkan koyak di sana – sini, sehingga kaos itu malahan menjadi rusak. Maka dengan berkelakar, seorang teman mubaligh berujar,”Kalau saya tidak saya rusak. Biarin aja. Nanti kalau ada yang tanya jawab saja, sudah saya tusuk dengan jarum sampai mati.” Adaa, aja...!
Dari Aisyah dia berkata, Rasulullah SAW datang dari suatu perjalanan, sedangkan aku telah menutup rak lemariku dengan gorden (kain penutup) yang bergambar (makhluk), lalu ketika beliau melihatnya, serta merta wajah beliau berubah seraya berkata, ‘Wahai Aisyah, manusia paling kerasa adzabnya di sisi Allah pada hari kiamat adalah orang – orang yang menyamai ciptaan Allah’.” Aisyah lalu berkata, “Lalu kami memotongnya dan menjadikannya satu bantal atau dua bantal.” (Rowahu Bukhory – Muslim)
Nah, daripada ragu, repot dan kena rasa was – was lain yang mungkin hinggap, maka beberapa gift yang membanggakan itu, dengan berat hati, terpaksa berpindah tangan. Seperti cerita Nabi SAW yang membeli baju sutra, kemudian memberikannya kepada Umar bin Khoththob. Membeli boleh, menerima juga boleh. Yang nggak boleh hanya memakainya, untuk sutera bagi kaum lelaki. Demikianlah saya bersikap dengan kaos atau baju yang bergambar menthol ini. Pemberian saya terima. Hadiah saya syukuri dengan senang hati, rasa bangga dan gembira, namun kemudian saya sedekahkan. Buat apa berbangga dengan merek mahal, tetapi bermasalah dengan Sang Pencipta. Setidaknya dengan perbuatan itu saya punya cerita. History, kalau pernah menerima dan memiliki sandang yang bermerek terkenal. Walau hanya sebentar. Mudah – mudahan sikap ini bisa ngepasi firman Allah dalam surat Hujurat ayat 15; Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.
Oleh ;Fahmi di Jambi
Kamis, 25 Juni 2009
Nyeleneh
Beberapa waktu yang lalu, saya sempat asyik berdiskusi dengan salah seorang kawan lama. Sampailah pada pembahasan surat At-Takaatsur. Dalam tafsir surat At-Takaatsur diceritakan, Bani Adam berkata; ’Ini hartaku, ini milikku, malii malii malii.’ Terus Allah menjawab: ”Hai anak Adam, tidak ada harta bagimu kecuali apa - apa yang telah kau makan dan menjadi kotoran, apa – apa yang kamu pakai dan menjadi gombal dan apa - apa yang kamu teruskan dengan sodaqoh, maka kamu telah menyimpannya.” Nah, betapa kagetnya saya ketika timbul pernyataan bahwa harta yang kita infaqi adalah harta yang sudah rombeng, yang habis pakai. Karena dalil di atas menyebutkan bahwa harta kita adalah seperti pakaian yang telah jadi gombal.
Sebelum memberikan penjelasan dan ”sanggahan” tentunya, saya ingin sekali memahami cara orang – orang yang sampai punya kesimpulan seperti itu. Bagaimana karakternya dan kenapa sampai ’tega’ berkata begitu? Ada apa gerangan? Seperti ada sesuatu yang tersembunyi dari pernyataan itu. Ada yang ingin disampaikan, tapi tak mampu. Ada penghalang yang tak bisa dilampauinya.
Terus – terang saya masih penasaran, ketika ketemu pemahaman – pemahaman yang nyleneh. Kenapa ya, kok bisa begitu? Bagaimana proses timbulnya? Saya tidak bermaksud mencari penghakiman, nyleneh itu salah. Nyleneh itu jelek. Namun semata menikmati dan menghargai perbedaan yang ada. Buat saya semua syah – syah saja. Asal, tidak bertentangan dengan hukum Allah dan RasulNya. Sebab semua ada konsekuensinya.
Kembali pada masalah di atas, intinya adalah masalah infaq. Di kalangan kita, ada pembatasan (plafon) berapa besar yang harus dikeluarkan sebagai infaq dari harta yang kita punya. Besarannya (per***nnya) ditentukan dari harta yang kita punya. Karena harta adalah sesuatu yang telah habis masa pakainya, maka tidak ada lagi infaq. Begitu kira – kira jalan pikirannya. Masuk diakal. Dalam hal ini, juga termasuk yang mempermasalahkan besaran per***nya. Ada yang berpendapat kalau itu tidak ada contohnya dari Nabi SAW. Nah, sekarang kita buktikan.
Dalilnya, infaq itu dari rejeki yang diberikan oleh Allah kepada kita. Wamimmaa rozaqnaahum yunfiquun. Ketika kita mendapatkan rejeki, baik besar maupun kecil, wajib mengeluarkan infaqnya. Wamimma mengandung arti sebagian dari bukan keseluruhannya. Jadi, mau dikeluarkan 1 %, 2 %, 10 %, 25 % atau bahkan 99% boleh – boleh saja, asal masih ada yang tersisa. Jadi tak ada hubungannya dengan harta yang kita punya. Sebagai bandingannya lihat Surat Bani Israil ayat 29; Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal. Bahkan dalam atsar lainnya kita temui kalau Abu Bakar pernah meninfaqkan seluruh hartanya. Ketika Nabi SAW bertanya, bagaiamana nanti Istri dan keluargamu? Abu Bakar dengan tegas menjawab, ”kuserahkan semua pada Allah dan RasulNya.” Jadi kalau sudah ada contohnya, bahkan sampai ada yang menginfakkan 100%, kenapa yang di bawah itu dipermasalahkan?
Oleh karena itu, dalam pernylenehan ini, kadang saya sampai pada satu kesimpulan; bahwa orang – orang tersebut pasti (mungkin) ingin cari sensasi dan/atau perhatian, kalau tidak pasti pada prinsip pokoke bedho (asal beda) atau memang ada gen tertentu yang mengiringinya. Masak sih? Oh, salah ya...??? Maklum..........tanpa bukti. Atau saya sendiri yang termasuk nyleneh di sini nih,,,, hi, hi, hik.....!!!
Oleh ; Faizunal Abdillah
Sebelum memberikan penjelasan dan ”sanggahan” tentunya, saya ingin sekali memahami cara orang – orang yang sampai punya kesimpulan seperti itu. Bagaimana karakternya dan kenapa sampai ’tega’ berkata begitu? Ada apa gerangan? Seperti ada sesuatu yang tersembunyi dari pernyataan itu. Ada yang ingin disampaikan, tapi tak mampu. Ada penghalang yang tak bisa dilampauinya.
Terus – terang saya masih penasaran, ketika ketemu pemahaman – pemahaman yang nyleneh. Kenapa ya, kok bisa begitu? Bagaimana proses timbulnya? Saya tidak bermaksud mencari penghakiman, nyleneh itu salah. Nyleneh itu jelek. Namun semata menikmati dan menghargai perbedaan yang ada. Buat saya semua syah – syah saja. Asal, tidak bertentangan dengan hukum Allah dan RasulNya. Sebab semua ada konsekuensinya.
Kembali pada masalah di atas, intinya adalah masalah infaq. Di kalangan kita, ada pembatasan (plafon) berapa besar yang harus dikeluarkan sebagai infaq dari harta yang kita punya. Besarannya (per***nnya) ditentukan dari harta yang kita punya. Karena harta adalah sesuatu yang telah habis masa pakainya, maka tidak ada lagi infaq. Begitu kira – kira jalan pikirannya. Masuk diakal. Dalam hal ini, juga termasuk yang mempermasalahkan besaran per***nya. Ada yang berpendapat kalau itu tidak ada contohnya dari Nabi SAW. Nah, sekarang kita buktikan.
Dalilnya, infaq itu dari rejeki yang diberikan oleh Allah kepada kita. Wamimmaa rozaqnaahum yunfiquun. Ketika kita mendapatkan rejeki, baik besar maupun kecil, wajib mengeluarkan infaqnya. Wamimma mengandung arti sebagian dari bukan keseluruhannya. Jadi, mau dikeluarkan 1 %, 2 %, 10 %, 25 % atau bahkan 99% boleh – boleh saja, asal masih ada yang tersisa. Jadi tak ada hubungannya dengan harta yang kita punya. Sebagai bandingannya lihat Surat Bani Israil ayat 29; Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal. Bahkan dalam atsar lainnya kita temui kalau Abu Bakar pernah meninfaqkan seluruh hartanya. Ketika Nabi SAW bertanya, bagaiamana nanti Istri dan keluargamu? Abu Bakar dengan tegas menjawab, ”kuserahkan semua pada Allah dan RasulNya.” Jadi kalau sudah ada contohnya, bahkan sampai ada yang menginfakkan 100%, kenapa yang di bawah itu dipermasalahkan?
Oleh karena itu, dalam pernylenehan ini, kadang saya sampai pada satu kesimpulan; bahwa orang – orang tersebut pasti (mungkin) ingin cari sensasi dan/atau perhatian, kalau tidak pasti pada prinsip pokoke bedho (asal beda) atau memang ada gen tertentu yang mengiringinya. Masak sih? Oh, salah ya...??? Maklum..........tanpa bukti. Atau saya sendiri yang termasuk nyleneh di sini nih,,,, hi, hi, hik.....!!!
Oleh ; Faizunal Abdillah
Jumat, 19 Juni 2009
Tetangga oh Tetangga
Pernah punya pengalaman membantu tetangga? Tentu, dan saya yakin beragam ceritanya. Banyak yang bertaut, tapi ada juga yang bersambung jadi masalah. Niat awalnya baik membantu, tetapi di seberang sana gayung tak bersambut. Malah saking pedenya mereka bilang, “Kalau nggak mau bantu ya nggak apa – apa. Kok nggak ikhlas, kelihatannya.” Su’udhonnya sudah nongol ke permukaan. Bagaimana tahu ikhlash nggaknya seseorang. Kayak yang Maha Kuasa saja tahu isi hati orang. Malaikat saja give up dalam hal keikhlashan ini.
Jika, niat baik dan amal sholih kita berjalan lancar – lancar saja Alhamdulillah. Itu yang diharapkan. Semoga pahala terus mengalir. Namun jika niat baik dan amal sholih kita menemui rintangan, bersabarlah. Karena darinya akan kita dapatkan pahala yang berlimpah. Besarnya pahala beserta besarnya cobaan, begitu Kanjeng Nabi SAW mengingatkan. Jadi tak usah kecil hati. Lancar nggak lancar hadapi terus sampai tergapai niat baik kita itu. Intinya, langkah proaktif kita yaitu: jangan sakiti tetangga. Jangan sampai mulai duluan. Jangan terprovokasi. Ora ilok.
Beberapa waktu yang lalu istri saya mengeluh, katanya tetangga sebelah yang suka mbantu di rumah nggak bisa datang pagi - pagi. Alasannya masih ngantuk. Terlepas benar enggaknya alasan itu, saya sempat sewot juga. Masak sih! Dan terbersitlah dalam alam pikiran saya sangka jelek padanya. Orang ini pasti malas, masak jam 7 pagi masih tidur. Pantes saja nggak berkembang usahanya, wong kebanyakan tidur. Bagaimana nggak miskin terus, wong nglanggar dalil habis subuh tidur. Dan seterusnya, dan seterusnya bertubi – tubi persangkaan yang tidak baik terhadapnya. Kemudian saya sadar, istighfar – astaghfirullah. Ya Allah ampuni saya yang telah berprasangka jelek terhadap tetangga. Sebab semua itu hanya ilusi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Allah berfirman: Sesungguhnya persangkaan itu tiada bisa menolak sedikitpun terhadap kebenaran. (QS An-Najm: 28).
Yang tadinya saya mau marah, akhirnya sadar. Kepada istri saya bilang, “Ya sudah coba kita cari solusinya dengan jalan lain. Mungkin, setiap malam dia rajin bangun malam. Nggak seperti kita yang banyak terlewat. Dan selepas shubuh, sambil nunggu suami berangkat kerja, nggak ada yang dikerjakan karena memang nggak ada yang harus dikerjakan. Nggak perlu masak sebab nggak ada yang dimasak. Nggak perlu ngepel, nyapu dan bersih – bersih. Makanya dia manfaatkan waktunya untuk rebahan. Yang penting dia masih bisa bantu kita, sesuai waktu yang dia punya. Itu udah syukur pol.”
Rupanya apa yang menjangkiti saya serupa dengan yang menjangkiti pikiran istri saya. Dia sedikit mengundat niat baik dan usaha membantu kami kepadanya. Sebelum berlama – lama, saya cut pembicaraan itu. Saya bilang kepada istri saya, “Sebenarnya pikiran saya juga seperti pikiranmu. Persis. Plek. Tapi itu semua kan persangkaan. Nggak usah diperpanjang. Tetaplah jaga terus niat baik kita dan jangan sakiti tetangga, tetapi bantu dan baikilah tetangga kita. Insya Allah ada jalan lain sebagai gantinya.”
Selang beberapa saat dari kejadian itu, sepertinya Allah memberikan bukti akan persangkaan kami. Tetangga yang lain pun akhirnya buka suara, kalau memang si tetangga itu tiap pagi tidur sampai suaminya pulang berjualan. Alasannya karena memang tidak ada yang dikerjakan. Mau masak nggak ada yang dimasak. Masya Allah…….., tetapi kenapa ketika kita coba membantu dia menolak? Hal ini yang masih mengganjal di hati kami. Sebab tak lain wasiat Rasulullah SAW; ”Tidak termasuk orang iman, orang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan.” (Rowahu At-Thabrani di dalam Mu’jam Alkabir (12/154), Al-Baihaqi (10/3), Abu Ya’la (5/92)). Bagaimana nasib kami nanti? Dayustkah?
Akhirnya, di kesempatan yang pas, kami tanyakan kepada si tetangga perihal yang di atas tadi. Kenapa tidak mau kerja pagi – pagi dan menerima bantuan kami? Seperti disambar petir, jawaban yang kami dengar dari mulut tetangga kami itu. Katanya, ”Kami malu. Sebab Bapak dan Ibu sudah banyak membantu kami.”
Kami terdiam. Dua mata saya bertemu pandang dengan dua mata istri saya. Kayak pahlawan kesiangan. Untung masih menginjak bumi. ”Ya Allah, jangan kau siksa kami karena nikmat yang telah Engkau berikan kepada kami. Ya Allah tolonglah kami.” Rasa – rasanya kami belum banyak membantu. Tapi apa mau dikata. Kalau memang itu yang dirasa dan keluar dari hati nuraninya, kami tak bisa lagi mengganggunya. Hanya kepadanya saya titipkan pesan, ”Ya sudah kalau begitu, kalau Ibu butuh bantuan ngomong saja. Kalau kami mampu Insya Allah akan kami bantu.”
Pernah saya baca dalam sebuah cerita sufi yang sangat inspiratif bagi saya. Tersebutlah seorang sufi protes kepada Allah ketika dia melihat seorang peminta – minta di pingir jalan. Pakaiannya kumal, rambutnya kusut, bau dan berdebu di sana – sini. ”Ya Allah dimana keadilanMU. Kenapa engkau memberikan peran ini kepada pengemis itu?”
Tak lama terdengarlah sebuah suara sebagai jawabannya, ”Untuk itulah, Aku ciptakan kamu.”
Jadi memang tugas kita untuk berbuat baik kepada tetangga dan sesama. Ya berbuat baik, bukan yang lain.
Oleh :Fahmi di Jambi
Jika, niat baik dan amal sholih kita berjalan lancar – lancar saja Alhamdulillah. Itu yang diharapkan. Semoga pahala terus mengalir. Namun jika niat baik dan amal sholih kita menemui rintangan, bersabarlah. Karena darinya akan kita dapatkan pahala yang berlimpah. Besarnya pahala beserta besarnya cobaan, begitu Kanjeng Nabi SAW mengingatkan. Jadi tak usah kecil hati. Lancar nggak lancar hadapi terus sampai tergapai niat baik kita itu. Intinya, langkah proaktif kita yaitu: jangan sakiti tetangga. Jangan sampai mulai duluan. Jangan terprovokasi. Ora ilok.
Beberapa waktu yang lalu istri saya mengeluh, katanya tetangga sebelah yang suka mbantu di rumah nggak bisa datang pagi - pagi. Alasannya masih ngantuk. Terlepas benar enggaknya alasan itu, saya sempat sewot juga. Masak sih! Dan terbersitlah dalam alam pikiran saya sangka jelek padanya. Orang ini pasti malas, masak jam 7 pagi masih tidur. Pantes saja nggak berkembang usahanya, wong kebanyakan tidur. Bagaimana nggak miskin terus, wong nglanggar dalil habis subuh tidur. Dan seterusnya, dan seterusnya bertubi – tubi persangkaan yang tidak baik terhadapnya. Kemudian saya sadar, istighfar – astaghfirullah. Ya Allah ampuni saya yang telah berprasangka jelek terhadap tetangga. Sebab semua itu hanya ilusi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Allah berfirman: Sesungguhnya persangkaan itu tiada bisa menolak sedikitpun terhadap kebenaran. (QS An-Najm: 28).
Yang tadinya saya mau marah, akhirnya sadar. Kepada istri saya bilang, “Ya sudah coba kita cari solusinya dengan jalan lain. Mungkin, setiap malam dia rajin bangun malam. Nggak seperti kita yang banyak terlewat. Dan selepas shubuh, sambil nunggu suami berangkat kerja, nggak ada yang dikerjakan karena memang nggak ada yang harus dikerjakan. Nggak perlu masak sebab nggak ada yang dimasak. Nggak perlu ngepel, nyapu dan bersih – bersih. Makanya dia manfaatkan waktunya untuk rebahan. Yang penting dia masih bisa bantu kita, sesuai waktu yang dia punya. Itu udah syukur pol.”
Rupanya apa yang menjangkiti saya serupa dengan yang menjangkiti pikiran istri saya. Dia sedikit mengundat niat baik dan usaha membantu kami kepadanya. Sebelum berlama – lama, saya cut pembicaraan itu. Saya bilang kepada istri saya, “Sebenarnya pikiran saya juga seperti pikiranmu. Persis. Plek. Tapi itu semua kan persangkaan. Nggak usah diperpanjang. Tetaplah jaga terus niat baik kita dan jangan sakiti tetangga, tetapi bantu dan baikilah tetangga kita. Insya Allah ada jalan lain sebagai gantinya.”
Selang beberapa saat dari kejadian itu, sepertinya Allah memberikan bukti akan persangkaan kami. Tetangga yang lain pun akhirnya buka suara, kalau memang si tetangga itu tiap pagi tidur sampai suaminya pulang berjualan. Alasannya karena memang tidak ada yang dikerjakan. Mau masak nggak ada yang dimasak. Masya Allah…….., tetapi kenapa ketika kita coba membantu dia menolak? Hal ini yang masih mengganjal di hati kami. Sebab tak lain wasiat Rasulullah SAW; ”Tidak termasuk orang iman, orang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan.” (Rowahu At-Thabrani di dalam Mu’jam Alkabir (12/154), Al-Baihaqi (10/3), Abu Ya’la (5/92)). Bagaimana nasib kami nanti? Dayustkah?
Akhirnya, di kesempatan yang pas, kami tanyakan kepada si tetangga perihal yang di atas tadi. Kenapa tidak mau kerja pagi – pagi dan menerima bantuan kami? Seperti disambar petir, jawaban yang kami dengar dari mulut tetangga kami itu. Katanya, ”Kami malu. Sebab Bapak dan Ibu sudah banyak membantu kami.”
Kami terdiam. Dua mata saya bertemu pandang dengan dua mata istri saya. Kayak pahlawan kesiangan. Untung masih menginjak bumi. ”Ya Allah, jangan kau siksa kami karena nikmat yang telah Engkau berikan kepada kami. Ya Allah tolonglah kami.” Rasa – rasanya kami belum banyak membantu. Tapi apa mau dikata. Kalau memang itu yang dirasa dan keluar dari hati nuraninya, kami tak bisa lagi mengganggunya. Hanya kepadanya saya titipkan pesan, ”Ya sudah kalau begitu, kalau Ibu butuh bantuan ngomong saja. Kalau kami mampu Insya Allah akan kami bantu.”
Pernah saya baca dalam sebuah cerita sufi yang sangat inspiratif bagi saya. Tersebutlah seorang sufi protes kepada Allah ketika dia melihat seorang peminta – minta di pingir jalan. Pakaiannya kumal, rambutnya kusut, bau dan berdebu di sana – sini. ”Ya Allah dimana keadilanMU. Kenapa engkau memberikan peran ini kepada pengemis itu?”
Tak lama terdengarlah sebuah suara sebagai jawabannya, ”Untuk itulah, Aku ciptakan kamu.”
Jadi memang tugas kita untuk berbuat baik kepada tetangga dan sesama. Ya berbuat baik, bukan yang lain.
Oleh :Fahmi di Jambi
Ngepasi
Yang namanya ngepasi atau kebetulan itu jarang - jarang. Bahkan bisa dikatakan kecil peluang terjadinya. Seumur hidup, mungkin bisa dihitung dengan jari terjadinya peristiwa ngepasi ini. Yang namanya ngepasi itu tidak terus – terusan. Kalau ada yang mengklaim diri, tiap hari ngepasi terus, perlu dilihat lagi apa yang dimaksud dengan ngepasi itu. Sebab salah satu unsur ngepasi itu ada unsur waktu (time response) yang singkat, ada unsur ketidaksengajaan dan unsur kepepet atau kebelet alias pengin banget. Jadi harus bisa membedakan antara ngepasi dengan kegiatan rutinitas.
Terus terang, semua orang pengin hidup dalam keadaan pas – pasan tersebut. Pas pengin kawin, tahu – tahu dilamar gadis cantik yang lama dinanti-nantikan. Bukan nglamar malah dilamar. Pas pengin punya rumah, eh tak tahunya dapat hadiah dari pamannya. Pas pengin punya mobil, ndilalah menang tender proyeknya. Pas pengin anak, ndak lama kemudian istrinya hamil. Kembar lagi anaknya. Kelihatannya indah. Enak dan resep dibacanya. Tapi ini hanya ada dalam dongeng. Itu semua hanya ada dalam film bikinan manusia yang durasinya hanya jam – jaman. Sebab Allah sudah menciptakan segala rupa aturan lengkap, untuk menghiasi dunia ini agar indah dan indah selalu. Dan salah satunya adalah dengan peristiwa ngepasi itu. Seandainya semua orang bisa ngepasi semua, tentu dunia ini nggak indah. Sebab nggak ada dinamika dan usaha. Padahal yang membuat indah yaitu gerak - polah manusia untuk mendapatkan yang diinginkannya itu. Nggak seru, kalau semua serba kebetulan.
Namun di dalam kehidupan seseorang terkadang ada peristiwa – peristiwa yang mengejutkan sekaligus ngepasi. Diantaranya, lagi pas pengin berangkat haji, tahu – tahu dapat hadiah berangkat haji dari kantornya. Malamnya terbersit niat, paginya dapat kupon berangkat haji yang tak disangka - sangka. Peristiwa seperti ini adalah monumental – milestone kehidupan. Nggak lapuk ditelan waktu dan nggak usang ditinggal jaman. Rasanya seperti nggak hilang – hilang. Nggak habis diceritakan dan nggak bosen diulang – ulang. Saking syukur dan saking indahnya rejeki itu. Mengalahkan beribu penderitaan dan perjuangan hidup yang lain. Itulah kuasa Allah dalam mengatur kehidupan ini.
Sebagai timbangan tambahan pengertian simaklah ayat 140 Surat Ali Imron berikut ini. Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada'. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim. Kunci ayat ini ada di akhirnya, yaitu Allah tidak suka orang – orang yang dholim. Artinya orang yang pengin menang terus, enak terus dan jaya terus. Sebab itu bertentangan dengan hukum Allah yang memutar hari – hari bagi manusia. Jadi ada kalanya menang, juga ada kalanya kalah. Ada masanya senang, ada masanya susah. Sampai pada ada yang mati mulyo sebagai syuhada. Itulah yang ngepasi dengan dalil dan sunnatullah. Oh ya…?
Oleh :Fahmi di Jambi
Terus terang, semua orang pengin hidup dalam keadaan pas – pasan tersebut. Pas pengin kawin, tahu – tahu dilamar gadis cantik yang lama dinanti-nantikan. Bukan nglamar malah dilamar. Pas pengin punya rumah, eh tak tahunya dapat hadiah dari pamannya. Pas pengin punya mobil, ndilalah menang tender proyeknya. Pas pengin anak, ndak lama kemudian istrinya hamil. Kembar lagi anaknya. Kelihatannya indah. Enak dan resep dibacanya. Tapi ini hanya ada dalam dongeng. Itu semua hanya ada dalam film bikinan manusia yang durasinya hanya jam – jaman. Sebab Allah sudah menciptakan segala rupa aturan lengkap, untuk menghiasi dunia ini agar indah dan indah selalu. Dan salah satunya adalah dengan peristiwa ngepasi itu. Seandainya semua orang bisa ngepasi semua, tentu dunia ini nggak indah. Sebab nggak ada dinamika dan usaha. Padahal yang membuat indah yaitu gerak - polah manusia untuk mendapatkan yang diinginkannya itu. Nggak seru, kalau semua serba kebetulan.
Namun di dalam kehidupan seseorang terkadang ada peristiwa – peristiwa yang mengejutkan sekaligus ngepasi. Diantaranya, lagi pas pengin berangkat haji, tahu – tahu dapat hadiah berangkat haji dari kantornya. Malamnya terbersit niat, paginya dapat kupon berangkat haji yang tak disangka - sangka. Peristiwa seperti ini adalah monumental – milestone kehidupan. Nggak lapuk ditelan waktu dan nggak usang ditinggal jaman. Rasanya seperti nggak hilang – hilang. Nggak habis diceritakan dan nggak bosen diulang – ulang. Saking syukur dan saking indahnya rejeki itu. Mengalahkan beribu penderitaan dan perjuangan hidup yang lain. Itulah kuasa Allah dalam mengatur kehidupan ini.
Sebagai timbangan tambahan pengertian simaklah ayat 140 Surat Ali Imron berikut ini. Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada'. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim. Kunci ayat ini ada di akhirnya, yaitu Allah tidak suka orang – orang yang dholim. Artinya orang yang pengin menang terus, enak terus dan jaya terus. Sebab itu bertentangan dengan hukum Allah yang memutar hari – hari bagi manusia. Jadi ada kalanya menang, juga ada kalanya kalah. Ada masanya senang, ada masanya susah. Sampai pada ada yang mati mulyo sebagai syuhada. Itulah yang ngepasi dengan dalil dan sunnatullah. Oh ya…?
Oleh :Fahmi di Jambi
Berdoa

Setiap orang pasti pernah berdoa. Ada yang panjang, ada yang pendek. Ada yang diulang – ulang sehingga jadi panjang, ada juga yang sekali baca sehingga pendek. Ada yang disenangi, ada juga doa yang hanya sekedarnya.
Basa – basi. Maksudnya hanya memenuhi kadar pengguguran kewajiban.
Pelengkap. Contohnya doa pengayoman (?) Ada juga doa yang umum dan doa yang bersifat pribadi. Jama’ ataupun mufrad. Pokoknya banyak macamnyalah, bagaimana sebuah doa itu dipanjatkan. Satu hal yang pasti, bahwa doa adalah sebuah permohonan kepada Allah Yang Maha Esa dan umumnya berisi kebaikan terutama buat sang pelantun doa. Sebab baiknya pelantun doa yang satu, belum tentu sama dengan pelantun doa yang lainnya.
Dalam perjalanannya, doa mirip dengan cuaca. Kala cuaca bagus, hati riang, perasaan padang, orang senang dan berlama – lama dalam memanjatkan doa. Mengulang – ulang, bahkan doa – doa baru pun disenandungkan. Sebaliknya kalau cuaca tidak bagus, timbul malas dan perasaan berat untuk melantunkan doa. Sedikit, pendek dan ogah – ogahan.
Yang sering dibaca pun kalau bisa dan kalau boleh mau diringkas. Rupek.
Serba salah. Maka, kita kenal dengan yang namanya doa sapu jagad.
Katanya, kalau lagi repot, sibuk bin sumpek cukup baca doa itu saja:Robbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanah wafil akhiroti hasanah waqiinaa adzaaban naar. Itu sudah mencukupi, desahnya.
Perilaku – perilaku dalam berdoa perlu kita cermati. Doa adalah ibadah.
Dalil yang lain mengatakan bahwa doa adalah otaknya ibadah. Sebisa mungkin kita benar – benar bisa mengandalkan doa – dao kita. Sebisa mungkin kita benar – benar yakin dengan doa kita. Sebisa mungkin kita tahu apa yang kita baca dalam doa. Sebisa mungkin kita khusyu’ dalam berdoa. Jangan ceroboh. Jangan ngelantur atau malah ngalamun. Seperti keadaan cuaca itu, maka Rasulullah SAW bersabda, ”Barangsiapa yang menyenangkan baginya jika Allah mengabulkan doanya dikala berat dan susah, maka perbanyaklah doa di waktu longgar.” (Rowahu at-Tirmidzi dari Abu Huroiroh)
Terlepas dari kualitasnya, sekarang coba kita hitung berapa banyak
(quantity) doa yang kita panjatkan. Terus – terang saya termasuk orang ”
irian” terhadap doa. Maksudnya timbul perasaan iri ketika banyak doa – doa yang secara makna sangat indah dan bagus, tapi belum bisa saya amalkan dan hafalkan. Apalagi di situ diterangkan fadhilah – fadhilahnya. Rasanya pengin banget bisa mengamalkan doa itu, tetapi apa daya. Ketika sudah mengamalkan dan menghafalkannya, beberapa saat kemudian melupakannya, ketika datang lagi sekumpulan doa baru yang, lagi – lagi menurut saya, – sangat indah dan menarik. Terus begitu. Akhirnya saya mencoba mengoreksi kembali apa yang salah dengan diri ini.
Dari serangkaian instrospeksi, saya menemukan beberapa fakta. Pertama, ternyata dari banyak keadaan dan kelakuan, sering kali saya memanjatkan doa dengan kondisi tergesa – gesa. Tergesa – gesa membacanya, tergesa – gesa segera menyambung dengan doa yang lain, bahkan tergesa – gesa untuk segera mencapai hitungan yang ditentukan, seperti 3 kali, 7 kali dan sebagainya. Kadang, juga tergesa – gesa karena ditunggu kerjaan. Dalam hal ini saya hanya butuh sedikit kesabaran untuk menghadapinya. Yang kedua, ternyata banyak tidak khusyu’nya ketika berdoa. Acapkali habis berdoa, belahan jiwa saya bertanya, tadi doa yang ini udah dibaca belum ya? Kayaknya belum? Bahkan saking erornya, pernah hati berbisik, tadi doa apa ya? Masya Allah. Kalau yang berdoa sendiri tidak tahu apa yang dipanjatkan, bagaimana yang mau mengabulkan? Dalam hal ini saya memahami betul, kenapa dilarang berdoa, sholat atau kegiatan lain ketika sedang ngantuk. Sebab ia setengah sadar, antara tahu dan tidak tahu apa yang diperbuatnya. Untuk mengatasi hal ini, sebenarnya sederhana saja cukup konsentrasi. Kata – katanya saja yang mudah, aplikasinya silahkan coba sendiri. Susah toh? Namun harus tetap dilatih dengan penuh kesadaran dan kesabaran. Apapun, dua hal itulah yang sangat perlu dilakukan dalam berdoa agar kita yakin, tambah yakin, ngimel, mantap, senang, berlama – lama, rajih dan dijamin terkabulnya doa.
Tapi bagaimana dengan sering gonta – ganti doa? Ah, ternyata itu sudah biasa. Banyak orang yang mengalaminya. Yang penting dari sekian banyak itu tentu ada yang jadi menu rutin dan pilihan utama, sesuai selera.
Sebab yang saya tahu, ada yang suka doa ini, ada yang suka doa itu, ada yang begini, ada yang begitu. Mungkin hanya satu yang tak ada yang suka melantunkannya, yaitu doa Nabi SAW berikut ini: Allohumma ahyinii miskinan, wa amitnii miskinan wab’atsnii fii zumrotal masaakiin (Ya Allah hidupilah aku dalam keadaan miskin, dan matikanlah aku dalam keadaan miskin, dan bangkitkan aku bersama golongannya orang miskin).
Benarkah ?
Oleh :Faizunal Abdillah
Langganan:
Postingan (Atom)
